Awas, ada Penindasan Berjama’ah di Sekolah

Awas, ada Penindasan Berjama’ah di Sekolah

Seharusnya sekolah adalah tempat bersenang-senang bagi anak-anak, tempat mereka  menemukan kegembiraan dan kebahagiaannya. Di sekolah anak-anak belajar, bermain, bersosialiasi, mengembangkan bakatnya. Di sekolah anak-anak memperoleh kebahagiaan, perlindungan dari segala bentuk ancaman, intimidasi baik verbal maupun non verbal. Di sana anak-anak merasa nyaman. Hal ini semestinya terjadi sebagaimana kita bisa temukan dalam sejarah sekolah, dimana dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae, atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”.

Akan tetapi kenyataannya, banyak anak yang justru sebaliknya. Di sekolah anak-anak setres karena harus menghadapi pelajaran yang banyak. Di sekolah anak-anak takut berhadapan dengan guru, sehingga hilang kegembiraannya, lingkungan yang tidak bersahabat mengakibatkan anak terasing dari sesama teman. Tuntutan lingkungan di luar sekolah tidak kalah seramnya siap mengancam mereka  untuk segera dewasa. Anak-anak jadi kehilangan kesempatan sebagai anak-anak yang bahagia dengan dunia bermainnya. Celaknya lagi sepulang sekolah, semua beban itu tetap terbawa dan penderitaan berlanjut di rumah. Yang ironisnya pelakunya tidak lain adalah orangtua mereka sendiri.

Kondisi semacam ini bukan hal baru di negeri ini, sudah terjadi sejak lama. Hal ini jadi kegelisahan besar bagi kami sebagai guru, mengapa masih terjadi di masa dewasa ini. Bukankah sistem pendidikan sudah dirombak, birokrasi telah silih berganti dengan diikuti oleh kebijakannya? Mengapa gaya dan pola pendidikan lama ini masih dibiarkan. Ini penindasan dan kesewenangan kepada anak-anak kita terutama di usia dini. Kami menyebutnya ini “penindasan”

Penindasan ini telah terjadi kepada anak-anak kita sejak usia dini, mulai dari PAUD, PG dan TK. Dimana sebelumnya jenjang ini tidak dikenal dalam struktur formal pendidikan. Nampaknya sekarang posisi PAUD, PG atau TK menjadi bagian jenjang wajib pendidikan yang harus dilalui anak sebelum masuk SD. Ironisnya, jenjang ini menjadi struktural formal tak ubahnya lagi seperti SD kelas 1. Disini upaya penindasan itu telah terjadi seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Contoh sederhana bentuk penindasannya adalah dalam hal belajar membaca dan menulis. Disana anak sudah diperalat dan ditekan sedemikian rupa agar bisa segera pandai calistung (membaca, menulis dan berhitung). Sehingga ada sebagian PAUD, PG atau TK yang sudah menerapkan sistem PR dan Tes lulus kepada anak muridnya. Jadi, filosofi awalnya sebagai Taman Kanak-kanak berubah menjadi tempat belajar formal. Yang terjadi bukanlah mengenalkan hubungan belajar mengajar, tetapi pemaksaan terselubung oleh orang dewasa yang ‘berkuasa’ terhadap yang lemah dalam hal ini anak-anak kita. Jika proses ini terus berlanjut, jelas proses belajar semacam ini akan memblokir manusia menjadi manusia sejati dan menyalahi arti kata sekolah.

Karena itu, mari bersinergi mencarikan solusi membebaskan anak-anak kita dari tekanan semacam ini. Pertama-tama haruslah kita menjawab pertanyaan ini. Kenapa di Sekolah Dasar anak-anak sudah harus siap calistung? Bukankah SD kelas 1 saatnya baru belajar. Jawaban dari beberapa orang yang memiliki sekolah SD, beban kurikulum di SD kelas 1 sudah cukup tinggi, lihat saja buku pelajarannya, penuh dengan bacaan dan angka-angka. Lihat juga soal ulangannya. Anak yang belum bisa membaca dipastikan tidak bisa naik kelas nantinya. Bagaimana mungkin anak-anak dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi jika dia tidak bisa membaca dan berhitung. Sementara kelas makin tinggi materi pelajaran semakin sulit. Dimana saat ini tolok ukur kecerdasan masih berpatok pada hasil ujian tertulis. Ujung-ujungnya nanti tidak lulus ujuan nasional. Maka dilakukanlah seleksi dan kriteria yang rumit untuk input masukan siswa baru. Sehingga tes masuk, menjadi sebuh keharusan bagi sebagian sekolah. Terlebih sekolah yang mendapat julukan sekolah bagus dan paforit.

Melakukan tes masuk SD tentunya pro dan kontra pendapatnya. Namun menjadi tidak adil rasanya bagi anak-anak kita yang baru akan masuk Sekolah Dasar sudah di tes kemampuannya. “Wong belajar saja belum kok sudah di tes”. Hasilnya diumumkan, ada yang lulus murni, lulus cadangan, tidak lulus, ada nilai tertinggi (rengking) dan nilai rendah. Kesannya jika dari sebuah TK anaknya tidak diterima di sekolah paforit, TK tersebut kualitasnya rendah. Inilah sebabnya TK jadi ikut terpancing jadi “garang” melakukan penindasan juga pada anak-anak muridnya.

Dampak yang lebih luas lagi dari adanya tes masuk SD ini, orang tua ikut setres, pembelajaran semester 1 tahun ajaran baru akan dimulai pada bulan Juli, orang tua sudah mulai sibuk mencari sekolah sejak bulan oktober (enam bulan sebelumnya). Sekolah SD pun khusus dalam hal ini swasta sudah mendahului negeri membuka pendaftaran dan mengadakan tes masuk sekitar bulan Nopember – Desember. Kondisi seperti ini sedikit atau banyak mengusik pikiran bagi guru dan pengelola PAUD, PG/TK. Betapa tidak, orangtua kadang menanyakan terus sekolah mana yang bagus, dimana yang paling unggul. Terkadang ada yang mempertanyakan pelajaran apa saja yang diberikan di PAUD, PG/TK selama ini? Kok anak saya tidak lulus di sekolah itu?

Mari mengkritisi kondisi pendidikan sekolah kita saat ini. Bahwa sekali lagi kami utarakan, ini pemaksaan dan perampasan fitrah anak-anak. Telah terjadi penindasan berjama’ah di sekolah. Penindasan semacam ini tidak hanya mengenai hal fisik namun merusak sampai ke dalam batin. Mari kita benahi pendidikan anak-anak kita. Mau dibawa kemana nantinya. Bukankah tujuannya menjadikan anak-anak kita sebagai anak yang cerdas, bahagia dan merdeka sesuai dengan fitrahnya? Jadi jika ini harapannya mari kita berubah, kasihan anak-anak kita.

————

Penulis: Dulhamin Napitupulu, S.Pd.I (Kepala Sekolah Alam Patrick, Depok)

Lulus tahun 2002 dari Fakultas Tarbiyah, jurusan Manajemen Pendidikan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bubarkan Sekolah, Ganti dengan Bimbingan Belajar

Pola pembelajaran di sekolah oleh guru tampaknya untuk usia zaman sekarang, kini makin tak berkembang, bahkan mengakibatkan anak didik makin tak kreatif. Keadaan itu masih diperburuk dengan munculnya pola pembelajaran yang lebih mengutamakan bagaimana siswa bisa menjawab soal dalam Ujian Tengah / Akhir Semester dan Ujian Nasional (UN).

Akibat lebih jauh, guru kurang bersemangat untuk memperbaiki dirinya. Jika orientasi pembelajaran siswa hanya ditujukan ke Ujian Akhir Semester (UAS) atau Ujian Nasional (UN). Maka lebih baik sekolah dibubarkan. Sebagai gantinya, untuk men-drill siswa diperbanyak saja bimbingan belajar atau kursus mata pelajaran.

Hal senada juga pernah pada tahun 2001 lalu dilontarkan oleh para guru swasta yang tergabung dalam PGSRI dan bapak Edy Suwarni (Direktur Tenaga Kependidikan, Depdiknas, saat itu). Sebagai solusi atas keadaan tersebut rasanya perlu merubah paradigma tentang pola interaksi pembelajaran di kelas yang lebih menciptakan interaksi antara murid dengan murid maupun murid dengan guru. Dengan demikian kedua belah pihak, terutama murid bisa tumbuh lebih kreatif.

Munculnya pemikiran agar sekolah dibubarkan dan kedudukannya digantikan oleh bimbingan belajar, muncul akibat tingkah bimbingan belajar yang tampaknya merasa paling berjasa dalam mencetak “prestasi” siswa. Coba saja lihat apa yang mereka pasang pada spanduk atau pengumuman di jalan-jalan, misalnya sekian siswanya berhasil menembus PTN favorit. “100 % Dijamin Lulus UN” dll.  Seolah-olah peran guru di sekolah tak ada dalam diri siswa. Padahalkan pembelajaran itu proses panjang yang tak hanya sekejap.

Jika orientasi pendidikan hanya bagaimana agar siswa bisa mengerjakan soal UN memang sebaiknya tidak usah ada guru dan sekolahan. Biarkan anak-anak itu ke kursus dan bimbel saja. Pada kenyataannya memang banyak yang lulus dari bimbel.

Keadaan ini harus segera berubah. Bagaimana caranya? Kami mengusulkan perlunya upaya bersama-sama beralih dari pola lama ke pola yang lebih progresif dan visioner yakni pembelajaran oleh guru menjadi lebih deepdialogue dan vertical thinking. Caranya, antara lain, Pertama; dengan melemparkan problem kepada siswa supaya ‘dipaksa’ berpikir. Kedua; Ubah soal yang diberikan. Contoh, jika siswa biasanya diberi soal ‘Dimana Pangeran Diponegoro dilahirkan’, sebaiknya diubah menjadi, ‘Mengapa terjadi perang Diponegoro?’

Keuntungan bagi siswa dan guru ketika melontarkan soal semacam ini adalah siswa dan guru akan berpikir menganalisa sebuah fakta sejarah. Meskipun disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda atau isian tetap dibutuhkan proses analisa. Sekalipun anak membuka buku teks saat ujian tetap tidak bisa mencontek. Karena yang dibutuhkan bukan jawaban “ya” atau “tidak” saja, tetapi penjelasan rasional.

Akan tetapi, memang patut kita sadari bahwa guru juga memiliki beberapa kendala untuk mengubah pola pembelajarannya. Banyak guru tak menguasai materi pembelajaran dengan baik, serta masih banyak batasan bagi guru sehingga tak bebas mengajar, kadang terlalu percaya pada buku paket dan aturan-aturan. Untuk itu peran Pusdiklat dan lembaga instansi terkait sangat dibutuhkan bersinergi.

Pada sisi bagian lain, kami berpendapat juga mengusulkan agat UN untuk tingkat SD menuju SMP tak dibutuhkan, mengingat tingkat pendidikan SD masuk kategori wajib belajar yang memang harus mendorong anak untuk bersekolah. Selain fakta dilapangan dirasa hasil UN SD menuju SMP tidak ada fungsinya.

“Toh untuk melanjutkan ke SMP favorit atau negeri apalagi swasta saat ini ada tes lagi” bahkan sudah jauh-jauh hari bisa mendaftar sebelum hasil UN dan Ijazah keluar.  Oleh karenanya perlu sama-sama kita berfikir cerdas tentang pendidikan kita. Kalau tidak bukankah kita sedang mendidik dengan cara dan tujuan yang salah?

Sekolah Binatang

 

Alkisah pada suatu masa, para binatang memutuskan bahwa mereka harus melakukan sesuatu yang heroik guna mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam “suatu dunia baru”. Jadi mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah.

Mereka menerapkan kurikulum kegiatan yang terdiri dari lari, memanjat, renang, dan terbang. Untuk mempermudah pengaturan kurikulum itu, semua binatang harus mengambil semua mata pelajaran.

Sang Itik piawai dalam renang, bahkan sesungguhnya lebih baik ketimbang instrukturnya, namun ia lulus dengan angka minimum dalam terbang dan sangat buruk dalam lari. Karena lamban dalam lari, ia harus tetap tinggal sesuai jam sekolah dan juga melepaskan mata pelajaran renang untuk belajar lari. Ini berlangsung terus menerus sampai-sampai kakinya yang berselaput menjadi kelewat letih dan ia pun hanya memperoleh angka rata-rata dalam renang. Tetapi angka rata-rata masih bisa diterima di sekolah, jadi tak seorangpun yang merisaukannya kecuali si itik itu sendiri.

Kelinci menjadi juara kelas dalam lari, tetapi mengalami gangguan syaraf karena terlalu banyak tugas perbaikan dalam mata pelajaran renang.

Tupai hebat dalam memanjat namun ia merebakkan rasa frustasi di kelas terbang dimana gurunya kecapekan menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukannya dari puncak pohon ke bawah. Ia juga dilanda “kram kaki dan tangan” lantaran usaha yang terlampau keras serta kemudian malah mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam lari.

Sang elang adalah anak yang menyusahkan dan juga sulit didisiplinkan. Dalam kelas memanjat ia mengungguli semua binatang yang lain untuk sampai di puncak pohon, namun menuntut untuk menggunakan caranya sendiri untuk sampai kesana.

Pada akhir tahun, seekor belut yang abnormal yang dapat berenang dengan sangat baik, dan juga sedikit lari, memanjat dan terbang meraih angka tertinggi dan menyampaikan kata-kata perpisahan.

Anjing padang rumput keluar dari sekolah dan menentang iuran sekolah karena pengelolaannya tidak memperbolehkan pencantuman pelajaran menggali liang ke dalam kurikulum.

Akhirnya anjing-anjing itu mengirim anak-anaknya untuk magang ke seekor luak dan kemudian bergabung dengan para marmot serta tikus untuk memulai mendirikan sebuah sekolah swasta yang sukses.

Sumber : “Sekolah Binatang” ditulis oleh George H Reavis (dalam Buku Chicken Soup For the Soul, karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen).