Bubarkan Sekolah, Ganti dengan Bimbingan Belajar

Pola pembelajaran di sekolah oleh guru tampaknya untuk usia zaman sekarang, kini makin tak berkembang, bahkan mengakibatkan anak didik makin tak kreatif. Keadaan itu masih diperburuk dengan munculnya pola pembelajaran yang lebih mengutamakan bagaimana siswa bisa menjawab soal dalam Ujian Tengah / Akhir Semester dan Ujian Nasional (UN).

Akibat lebih jauh, guru kurang bersemangat untuk memperbaiki dirinya. Jika orientasi pembelajaran siswa hanya ditujukan ke Ujian Akhir Semester (UAS) atau Ujian Nasional (UN). Maka lebih baik sekolah dibubarkan. Sebagai gantinya, untuk men-drill siswa diperbanyak saja bimbingan belajar atau kursus mata pelajaran.

Hal senada juga pernah pada tahun 2001 lalu dilontarkan oleh para guru swasta yang tergabung dalam PGSRI dan bapak Edy Suwarni (Direktur Tenaga Kependidikan, Depdiknas, saat itu). Sebagai solusi atas keadaan tersebut rasanya perlu merubah paradigma tentang pola interaksi pembelajaran di kelas yang lebih menciptakan interaksi antara murid dengan murid maupun murid dengan guru. Dengan demikian kedua belah pihak, terutama murid bisa tumbuh lebih kreatif.

Munculnya pemikiran agar sekolah dibubarkan dan kedudukannya digantikan oleh bimbingan belajar, muncul akibat tingkah bimbingan belajar yang tampaknya merasa paling berjasa dalam mencetak “prestasi” siswa. Coba saja lihat apa yang mereka pasang pada spanduk atau pengumuman di jalan-jalan, misalnya sekian siswanya berhasil menembus PTN favorit. “100 % Dijamin Lulus UN” dll.  Seolah-olah peran guru di sekolah tak ada dalam diri siswa. Padahalkan pembelajaran itu proses panjang yang tak hanya sekejap.

Jika orientasi pendidikan hanya bagaimana agar siswa bisa mengerjakan soal UN memang sebaiknya tidak usah ada guru dan sekolahan. Biarkan anak-anak itu ke kursus dan bimbel saja. Pada kenyataannya memang banyak yang lulus dari bimbel.

Keadaan ini harus segera berubah. Bagaimana caranya? Kami mengusulkan perlunya upaya bersama-sama beralih dari pola lama ke pola yang lebih progresif dan visioner yakni pembelajaran oleh guru menjadi lebih deepdialogue dan vertical thinking. Caranya, antara lain, Pertama; dengan melemparkan problem kepada siswa supaya ‘dipaksa’ berpikir. Kedua; Ubah soal yang diberikan. Contoh, jika siswa biasanya diberi soal ‘Dimana Pangeran Diponegoro dilahirkan’, sebaiknya diubah menjadi, ‘Mengapa terjadi perang Diponegoro?’

Keuntungan bagi siswa dan guru ketika melontarkan soal semacam ini adalah siswa dan guru akan berpikir menganalisa sebuah fakta sejarah. Meskipun disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda atau isian tetap dibutuhkan proses analisa. Sekalipun anak membuka buku teks saat ujian tetap tidak bisa mencontek. Karena yang dibutuhkan bukan jawaban “ya” atau “tidak” saja, tetapi penjelasan rasional.

Akan tetapi, memang patut kita sadari bahwa guru juga memiliki beberapa kendala untuk mengubah pola pembelajarannya. Banyak guru tak menguasai materi pembelajaran dengan baik, serta masih banyak batasan bagi guru sehingga tak bebas mengajar, kadang terlalu percaya pada buku paket dan aturan-aturan. Untuk itu peran Pusdiklat dan lembaga instansi terkait sangat dibutuhkan bersinergi.

Pada sisi bagian lain, kami berpendapat juga mengusulkan agat UN untuk tingkat SD menuju SMP tak dibutuhkan, mengingat tingkat pendidikan SD masuk kategori wajib belajar yang memang harus mendorong anak untuk bersekolah. Selain fakta dilapangan dirasa hasil UN SD menuju SMP tidak ada fungsinya.

“Toh untuk melanjutkan ke SMP favorit atau negeri apalagi swasta saat ini ada tes lagi” bahkan sudah jauh-jauh hari bisa mendaftar sebelum hasil UN dan Ijazah keluar.  Oleh karenanya perlu sama-sama kita berfikir cerdas tentang pendidikan kita. Kalau tidak bukankah kita sedang mendidik dengan cara dan tujuan yang salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s